HARI-hari ini, mungkin tidak ada pembicaraan lain lebih menarik selain memperbincangkan uang. Khususnya, sesudah dalam kecemasan luar biasa, kita melihat sekaligus sadar, betapa kinerja rupiah semakin lunglai. Sementara dollar AS terus-menerus tambah perkasa."Tidak saja dalam nilai tukar, dari sisi kualitas kertasnya, rupiah kita memang gampang layu," kata Dr Djan Mahruzar (53) dalam nada datar. Kami berbicara di salah satu kantornya, di kawasan Pondok Indah Jakarta, dalam sebuah rumah asri berpagar besi tinggi dilengkapi petugas keamanan yang berjaga dengan waspada.
"Ambil saja selembar uang kertas rupiah bersama-sama dollar. Masukkan ke air, kemudian lihat..." Hampir bisa dipastikan begitu kertas dollar dikibaskan, tidak lama kemudian segera mengering dan kembali lagi kepada bentuknya semula. Sementara rupiah, bukan saja malah berantakan, kucel, dan yang biasa terjadi, lantas jadi agak tidak karuan bentuknya.
Sambil bergurau, Djan begitu nama panggilannya, menambahkan, "Bisa-bisa, gambar Pak Harto di lembaran 50.000 rupiah hilang senyumnya..."
Pernyataan terakhir sekadar sendau gurau. Akan tetapi, kualitas kertas berharga yang dipakai mencetak rupiah, tampaknya memang beda jauh dari kertas dollar. Maka juga jangan heran kalau rupiah mudah lecek. Bahkan tanpa harus menunggu puluhan tahun-karena uang selalu beredar dan pindah tangan-umumnya uang kertas kita mudah sekali pudar cahayanya. Apalagi lembaran senilai 20.000 rupiah bergambar Ki Hajar Dewantara yang aslinya pucat, "...mana mungkin mampu membikin hijau mata kita. Hijau adalah warna dasar dollar AS, yang secara konservatif ternyata sejak awal mereka pakai untuk mencetak uang kertas..."
Rupiah sebagian besar dicetak di luar negeri, konon demi alasan keamanan. Dilengkapi dengan tanda air, benang pengaman serta beragam upaya untuk menangkal pemalsuan. Ironisnya, percetakan di Kudus (Jawa Tengah) malah sedang kebanjiran pesanan uang asing. Djan Mahruzar menjelaskan, "... ada enam negara lain juga segera mempercayakan mata uangnya untuk dicetak di Kudus."
PERTANYAANNYA, mengapa kertas rupiah kita gampang kusut?
"... dari sono-nya, bahan kertas yang dipakai bukan prima. Sementara itu, segala macam uang kertas dunia; dolar, euro, atau yen, memakai kertas berharga dengan bahan dasar murni tanaman abaca."
Djan Mahruzar melukiskan, tanaman abaca dengan nama ilmiah Musa textilis NEE, sesungguhnya di masyarakat kita bukan tanaman asing. Di pedesaan, tanaman ini dikenal sebagai "pisang lanang" karena tak pernah menghasilkan buah, kecuali dedaun rimbun. Kelopak daun "pisang lanang" yang sesudah diolah akan bisa diubah menjadi serat, dirajut dan dibikin lembaran-lembaran kertas. Abaca termasuk famili Musaceae (jenis pisang-pisangan), biasa tumbuh liar di Pulau Mindanao Filipina Selatan serta Kepulauan Sangihe, Indonesia.
Tanaman abaca juga sering diistilahkan sebagai pohon uang, sebutan yang tidak keliru, karena hampir 80 persen produk seratnya dikhususkan untuk bahan baku pembuat uang kertas. Selain itu, dengan memiliki sifat dasar kuat berikut tahan air, bubur kertas abaca juga dipakai untuk membuat kertas berkualitas tinggi, dokumen, kertas berharga, kertas cek, kantung teh celup, kertas mimeograph, kertas berlapis besi, tali kapal, dan tekstil halus.
Sayangnya, Sangihe hanya gugusan pulau-pulau kecil, sama sekali tidak sebanding dengan Mindanao, salah satu pulau terbesar di Filipina. Masih lagi ditambah dengan kenyataan, produk abaca di sana sudah lama mendunia, diekspor langsung lewat Manila. Jadilah nama dagang untuk serat abaca, "Manila Hemp."
Joaquin Teotico dari Fiber Industry Development Authority (FIDA) Filipina menyebutkan, "Kebutuhan dunia atas serat abaca harus kita cukupi untuk mengimbangi lonjakan permintaan bubur kertas dan beragam produk sisa serat abaca." FIDA mematok target, selama lima tahun mendatang panenan abaca harus bisa ditingkatkan menjadi 1.500 kg per hektar dari catatan sekarang yang hanya 670 sampai 700 kg/hektar.
Menurut Kantor Berita Filipina PNA, ekspor serat abaca melonjak dari 8.618 metrik ton (1989) menjadi 17.987 metrik ton pada tahun 1998. Sebuah angka peningkatan 74 persen yang sangat fantastis. Dalam periode sama, permintaan tekstil halus eks abaca ikut melonjak dari 7.000 m2 menjadi 224.841 m2. Menurut catatan FIDA, ekspor serat abaca per tahunnya menyumbangkan keuntungan 85 juta dolar AS.
SEKARANG, kata Djan Mahruzar bersemangat, itulah tantangannya, sanggup tidak kita ikut merebut pasar dunia abaca. Didukung kenyataan, abaca bukan tanaman asing, iklim membantu, lahan luas dan teknologinya sederhana. Sebelum Perang Dunia II, Indonesia masih bisa memanen 30.000 ton per tahun serat abaca dengan sentra produksi tersebar di Sumsel, Jawa, Sangihe, dan Kalimantan. Tetapi sesudah kemerdekaan, Indonesia tinggal punya satu pabrik yang tersisa, PT Perkebunan Bayulor di Banyuwangi (Jatim) dengan areal seluas 400 ha.
"Situasinya semakin lebih memprihatinkan, karena tingkat produksinya tak lebih dari empat sampai enam ton serat kering per tahun. Selain sebagai produk unggulan untuk ekspor nonmigas, abaca juga bisa berperan dalam menciptakan lapangan kerja," katanya. Sejak kegiatan penanaman, pemeliharaan sampai kepada pemrosesan akan menyerap banyak tenaga kerja.
Ajakan untuk menanam abaca disambut hangat Bupati Agam (Sumbar) Aristo Munandar. Awal bulan Juni lalu dia menyatakan telah tersedia lahan di Kecamatan Lubukbasung, Palembayan, Palupuh, Tilatangkamang, dan Matur. "Tentu saja saya akan memusyawarahkan dulu, sehingga kita siap dengan program abakisasi," katanya.
Terpikatnya Djan Mahruzar dengan serat abaca bagaikan kisah "Kembalinya si anak hilang." Lelaki dengan dua putra ini dilahirkan di Lubukalung (Sumbar) dan menyelesaikan jenjang pendidikan sarjana di Universitas Djaja Baya Jakarta. Dilanjutkan program master di Institute for Marketing & Management Hongkong, kemudian doktor di American Institutes of Management Studies, Hawaii, AS. Sebagaimana layaknya orang Minangkabau, studi utamanya memilih bidang pemasaran dengan menghasilkan buku Markerting Masa Kini, diterbitkan oleh Djambatan (1985).
Djan Mahruzar sudah pernah menjadi sekretaris Prof Dr Abu Hanifah, eks Dubes di Italia dan Brasil, juga pernah bekerja di perusahaan farmasi multinasional sampai akhirnya ditunjuk sebagai eksekutif untuk wilayah Asia Pasifik dari Security Trading House Direct Venture Group dengan kantor pusat di London, Inggris. "Pada masa-masa bekerja di Hongkong itulah saya mulai mengenal tanaman abaca, karena tugas saya mengelola pembelian beragam produk agroindustri di sekeliling kawasan Pasifik."
Beberapa tahun lalu, ketika perusahaannya mulai berusaha mencari lahan baru untuk tanaman abaca di luar Filipina, Malaysia, India, Vietnam, India, dan Ekuador, pikiran cerdiknya mulai berputar, "Mengapa tak saya galakkan kembali tanaman abaca di Indonesia?"
"Pasar potensial abaca selama ini terbuka di Jepang, Amerika, dan negara-negara Eropa dengan taksiran kebutuhan 600.000 ton/tahun. Filipina per tahun menghasilkan sekitar 80.000 ton, Ekuador 10.000 ton, maka dalam kata lain, masih terbuka peluang besar bagi kita untuk ikut bermain abaca."
Sambil tersenyum, Djan Mahruzar mengatakan, "Mudah-mudahan saja, kalau rupiahnya nanti sudah dicetak dari kertas abaca eks tanaman sendiri,...tak gampang layu." (Julius Pour)
"Ambil saja selembar uang kertas rupiah bersama-sama dollar. Masukkan ke air, kemudian lihat..." Hampir bisa dipastikan begitu kertas dollar dikibaskan, tidak lama kemudian segera mengering dan kembali lagi kepada bentuknya semula. Sementara rupiah, bukan saja malah berantakan, kucel, dan yang biasa terjadi, lantas jadi agak tidak karuan bentuknya.
Sambil bergurau, Djan begitu nama panggilannya, menambahkan, "Bisa-bisa, gambar Pak Harto di lembaran 50.000 rupiah hilang senyumnya..."
Pernyataan terakhir sekadar sendau gurau. Akan tetapi, kualitas kertas berharga yang dipakai mencetak rupiah, tampaknya memang beda jauh dari kertas dollar. Maka juga jangan heran kalau rupiah mudah lecek. Bahkan tanpa harus menunggu puluhan tahun-karena uang selalu beredar dan pindah tangan-umumnya uang kertas kita mudah sekali pudar cahayanya. Apalagi lembaran senilai 20.000 rupiah bergambar Ki Hajar Dewantara yang aslinya pucat, "...mana mungkin mampu membikin hijau mata kita. Hijau adalah warna dasar dollar AS, yang secara konservatif ternyata sejak awal mereka pakai untuk mencetak uang kertas..."
Rupiah sebagian besar dicetak di luar negeri, konon demi alasan keamanan. Dilengkapi dengan tanda air, benang pengaman serta beragam upaya untuk menangkal pemalsuan. Ironisnya, percetakan di Kudus (Jawa Tengah) malah sedang kebanjiran pesanan uang asing. Djan Mahruzar menjelaskan, "... ada enam negara lain juga segera mempercayakan mata uangnya untuk dicetak di Kudus."
PERTANYAANNYA, mengapa kertas rupiah kita gampang kusut?
"... dari sono-nya, bahan kertas yang dipakai bukan prima. Sementara itu, segala macam uang kertas dunia; dolar, euro, atau yen, memakai kertas berharga dengan bahan dasar murni tanaman abaca."
Djan Mahruzar melukiskan, tanaman abaca dengan nama ilmiah Musa textilis NEE, sesungguhnya di masyarakat kita bukan tanaman asing. Di pedesaan, tanaman ini dikenal sebagai "pisang lanang" karena tak pernah menghasilkan buah, kecuali dedaun rimbun. Kelopak daun "pisang lanang" yang sesudah diolah akan bisa diubah menjadi serat, dirajut dan dibikin lembaran-lembaran kertas. Abaca termasuk famili Musaceae (jenis pisang-pisangan), biasa tumbuh liar di Pulau Mindanao Filipina Selatan serta Kepulauan Sangihe, Indonesia.
Tanaman abaca juga sering diistilahkan sebagai pohon uang, sebutan yang tidak keliru, karena hampir 80 persen produk seratnya dikhususkan untuk bahan baku pembuat uang kertas. Selain itu, dengan memiliki sifat dasar kuat berikut tahan air, bubur kertas abaca juga dipakai untuk membuat kertas berkualitas tinggi, dokumen, kertas berharga, kertas cek, kantung teh celup, kertas mimeograph, kertas berlapis besi, tali kapal, dan tekstil halus.
Sayangnya, Sangihe hanya gugusan pulau-pulau kecil, sama sekali tidak sebanding dengan Mindanao, salah satu pulau terbesar di Filipina. Masih lagi ditambah dengan kenyataan, produk abaca di sana sudah lama mendunia, diekspor langsung lewat Manila. Jadilah nama dagang untuk serat abaca, "Manila Hemp."
Joaquin Teotico dari Fiber Industry Development Authority (FIDA) Filipina menyebutkan, "Kebutuhan dunia atas serat abaca harus kita cukupi untuk mengimbangi lonjakan permintaan bubur kertas dan beragam produk sisa serat abaca." FIDA mematok target, selama lima tahun mendatang panenan abaca harus bisa ditingkatkan menjadi 1.500 kg per hektar dari catatan sekarang yang hanya 670 sampai 700 kg/hektar.
Menurut Kantor Berita Filipina PNA, ekspor serat abaca melonjak dari 8.618 metrik ton (1989) menjadi 17.987 metrik ton pada tahun 1998. Sebuah angka peningkatan 74 persen yang sangat fantastis. Dalam periode sama, permintaan tekstil halus eks abaca ikut melonjak dari 7.000 m2 menjadi 224.841 m2. Menurut catatan FIDA, ekspor serat abaca per tahunnya menyumbangkan keuntungan 85 juta dolar AS.
SEKARANG, kata Djan Mahruzar bersemangat, itulah tantangannya, sanggup tidak kita ikut merebut pasar dunia abaca. Didukung kenyataan, abaca bukan tanaman asing, iklim membantu, lahan luas dan teknologinya sederhana. Sebelum Perang Dunia II, Indonesia masih bisa memanen 30.000 ton per tahun serat abaca dengan sentra produksi tersebar di Sumsel, Jawa, Sangihe, dan Kalimantan. Tetapi sesudah kemerdekaan, Indonesia tinggal punya satu pabrik yang tersisa, PT Perkebunan Bayulor di Banyuwangi (Jatim) dengan areal seluas 400 ha.
"Situasinya semakin lebih memprihatinkan, karena tingkat produksinya tak lebih dari empat sampai enam ton serat kering per tahun. Selain sebagai produk unggulan untuk ekspor nonmigas, abaca juga bisa berperan dalam menciptakan lapangan kerja," katanya. Sejak kegiatan penanaman, pemeliharaan sampai kepada pemrosesan akan menyerap banyak tenaga kerja.
Ajakan untuk menanam abaca disambut hangat Bupati Agam (Sumbar) Aristo Munandar. Awal bulan Juni lalu dia menyatakan telah tersedia lahan di Kecamatan Lubukbasung, Palembayan, Palupuh, Tilatangkamang, dan Matur. "Tentu saja saya akan memusyawarahkan dulu, sehingga kita siap dengan program abakisasi," katanya.
Terpikatnya Djan Mahruzar dengan serat abaca bagaikan kisah "Kembalinya si anak hilang." Lelaki dengan dua putra ini dilahirkan di Lubukalung (Sumbar) dan menyelesaikan jenjang pendidikan sarjana di Universitas Djaja Baya Jakarta. Dilanjutkan program master di Institute for Marketing & Management Hongkong, kemudian doktor di American Institutes of Management Studies, Hawaii, AS. Sebagaimana layaknya orang Minangkabau, studi utamanya memilih bidang pemasaran dengan menghasilkan buku Markerting Masa Kini, diterbitkan oleh Djambatan (1985).
Djan Mahruzar sudah pernah menjadi sekretaris Prof Dr Abu Hanifah, eks Dubes di Italia dan Brasil, juga pernah bekerja di perusahaan farmasi multinasional sampai akhirnya ditunjuk sebagai eksekutif untuk wilayah Asia Pasifik dari Security Trading House Direct Venture Group dengan kantor pusat di London, Inggris. "Pada masa-masa bekerja di Hongkong itulah saya mulai mengenal tanaman abaca, karena tugas saya mengelola pembelian beragam produk agroindustri di sekeliling kawasan Pasifik."
Beberapa tahun lalu, ketika perusahaannya mulai berusaha mencari lahan baru untuk tanaman abaca di luar Filipina, Malaysia, India, Vietnam, India, dan Ekuador, pikiran cerdiknya mulai berputar, "Mengapa tak saya galakkan kembali tanaman abaca di Indonesia?"
"Pasar potensial abaca selama ini terbuka di Jepang, Amerika, dan negara-negara Eropa dengan taksiran kebutuhan 600.000 ton/tahun. Filipina per tahun menghasilkan sekitar 80.000 ton, Ekuador 10.000 ton, maka dalam kata lain, masih terbuka peluang besar bagi kita untuk ikut bermain abaca."
Sambil tersenyum, Djan Mahruzar mengatakan, "Mudah-mudahan saja, kalau rupiahnya nanti sudah dicetak dari kertas abaca eks tanaman sendiri,...tak gampang layu." (Julius Pour)
4:17:00 PM
Unknown
Posted in:






4 Commentary:
Apa boleh minta contact address Pak Dr Djan Mahruzar yah?
Terimakasih sebelumnya.
Salam,
Lucy
Bagaimana cara menghubungi Bapak Dr Djan Mahruzar?
Tolong informasi lebih jelas.
Terimakasih banyak.
Salam,
Lucy
Semoga dengan lesunya Rupiah tidak membuat kita juga ikutan lesu.
Bila kita juga lesu akan berakibat pada lesunya api yg menyala di dapur kita.
Terima kasih Bos, Artikelnya bagus sekali.
halo, apa boleh minta contact address pak Djan? terima kasih sebelumnya
Salam
Alex
future_alextan@yahoo.com
Posting Komentar